Rabu, 22 Mei 2013

JARING BANDRONG


JARING BANDRONG
1. Definisi dan Klasifikasi
Jaring bandrong merupakan salah satu jaring angkat  yang berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar dimana ujung-ujung salah satu sisinya diikat pada patok atau tiang pancang, sementara ujung yang lain dipasang tali untuk proses pengangkatan. Berdasarkan cara pengoperasiannya, jaring bandrong diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Secara garis besar, konstruksi utama jaring bandrong dibagi menjadi dua bagian, yaitu jaring dan bangunan. Jaring bandrong berbentuk trapezium dan cekung seperti mangkuk. Jaring terbuat dari benang kapas atau polyethylene dengan diameter benang 0,5-2 mm. Pada jaring bandrong terdapat jaring tambahan berbentuk segi empat panjang yang dipasang pada sisi kanan dan kiri jaring utama yang disebut jala-jala, berfungsi sebagai pintu penutup sebelum bibir jaring utama terangkat ke permukaan air. Ukuran mata jala-jala antara 10-12 cm. Untuk menambah kecepatan tenggelamnya jaring, di bagian tengah jaring utama diikatkan beberapa buah pemberat yang terbuat dari timah atau batu sungai dengan massa tiap-tiap pemberat yaitu 0,5-1,5 kg dan jumlahnya bervariasi sesuai dengan besarnya jaring.
Jaring bandrong dibuat dari waring (banding rebon) atau waring karuna, atau dari benang katun (banrong). Jaring bandrong berbentuk bujur sangkar, umumnya berukuran 18 x 18 m. Pada waktu pengoperasian, jaring bandrong dilengkapi tali untuk pengangkatan jaring (Subani dan Barus 1989). Menurut kelompok, kami parameter utama pada jaring bandrong adalah ukuran mata jaring.
3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
     3.1 Kapal
Kapal yang digunakan adalah perahu jukung yang terbuat dari kayu jati. Ukuran perahu yaitu: panjang = 6,5 m; lebar = 0,5 m; dalam = 0,6 m. Perahu tersebut digunakan pada saat mengambil hasil tangkapan, memasang dan melepaskan jaring serta digunakan sebagai alat transportasi nelayan untuk pergi dan kembali dari fishing ground.
     3.2 Nelayan
Untuk mengoperasikan jaring bandrong diperlukan 2-3 orang nelayan yang bertugas memasang dan melepaskan jaring serta mengambil hasil tangkapan.
     3.2 Alat Bantu
Jaring bandrong menggunakan tali untuk proses penangkapan.
4. Metode Pengoperasian Alat
Metode pengoperasian jaring bandrong yaitu jaring memasang jaring pada bangunan bandrong kemudian jaring diturunkan ke arah dasar perairan dengan cara mengulurkan tali untuk pengangkatan. Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan tali pengangkatan ditarik (jaring diangkat ke arah permukaan) hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring dan hasil tangkapan diangkat dari jaring (Subani dan Barus 1989).
5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian jaring bandrong adalah di perairan pantai yang terlindung dari gelombang besar dan di perairan terumbu karang serta di muara-muara sungai dan di sepanjang aliran sungai (Assir 1986). Distribusi jaring bandrong yaitu di Sulawesi Selatan (Kabupaten Barru, Pare-pare, Mandar, Jeneponto dan daerah lain di sekitar Makassar) (Subani dan Barus 1989).
6. Hasil Tangkapan
Menurut Subani dan Barus (1989) hasil tangkapan jaring bandrong antara lain tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), manyung (Tachysurus spp), pepetek (Leiognathus sp), belanak (Mugil spp), terkadang tongkol (Auxis rochei).
Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

sumber : http://itaapriani.blogspot.com/2012/05/pancing-ulur.html

PANCING ULUR

Definisi dan Klasifikasi
Pancing ulur merupakan suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari seutas tali dengan mata pancing berbentuk seperti jangkar. Pada mata pancing diikatkan umpan. Berdasarkan klasifikasi DKP tahun 2008, pancing ulur termasuk dalam klasifikasi alat tangkap hook and line.

Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
Konstruksi pancing ulur termasuk konstruksi yang sederhana, karena pancing ulur hanya berupa tali pancing dan kail (mata pancing). Secara keseluruhan, bagian-bagiannya terdiri atas penggulung, tali utama yang terbuat dari polyamide (PA) monofilament nylon No. 80, sebuah kili-kili, tali cabang yang terbuat dari polyamide (PA) monofilament nylon No. 70, kail No. 18 dan pemberat timah seberat 400 g. Jumlah pancing yang digunakan untuk setiap tali cabang tidak terbatas. Panjang tali pancing secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kedalaman perairan tempat pancing ulur dioperasikan. Biasanya berkisar antara 9-25 m. Mata pancing umumnya dibuat dari kawat baja, kuningan, atau bahan lain yang tahan karat. Pada ujung mata pancing umumnya berkait balik, walaupun ada beberapa jenis yang tidak berkait balik. Ukuran mata pancing tergantung pada ukuran ikan target penangkapan (Subani dan Barus, 1989).

Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
Kapal
Alat tangkap pancing ulur menggunakan kapal hanya sebatas alat transportasi, penggunaan pancing ulur tidak harus selalu dilengkapi dengan kapal. Selain kapal pemancingan dapat dilakukan dengan rakit rumpon (Admin 2010).
Nelayan
Nelayan pancing ulur umumnya merupakan nelayan sederhana yang bersifat turun temurun. Kegiatan memancing dengan pancing ulur merupakan kegiatan tradisi, hal ini membuat para nelayan pancing ulur sulit menerima perubahan dan pembaharuan alat tangkap (Wagiu 2009).

Alat Bantu Pengoperasian
pancing ulur dapat menggunakan alat bantu seperti rumpon yang berfungsi menarik dan mengumpulkan ikan pada satu titik, sehingga mempermudah proses penangkapan (Rahmat 2007).
Umpan
Pemancingan akan berhasil bila menggunakan umpan sungguhan, baik berupa potongan ikan, ikan kecil, cumi-cumi, atau udang. Namun, kadang-kadang ada juga yang menggunakan umpan tiruan dari bulu ayam atau tali rafia. Umpan hidup bisa berupa ikan kembung, layang, cumi-cumi, atau udang (Admin 2010).

Metode Pengoperasian Alat
Pemancingan dilakukan dengan mengaitkan umpan berupa umpan hidup ataupun umpan palsu pada mata pancing, mata pancing dan umpan diamsukkan dalam air hingga kedalaman tertentu. Tali pancing ditarik perlahan agar umpan terlihat bergerak dan menarik perhatian ikan. Ketika ikan menangkap umpan dan terkait pada mata pancing, tali ditarik hingga ikan tangkapan terangkat dari air (Rahmat 2007). Daerah pengoperasian Pancing ulur dapat dioperasikan pada perairan laut maupun tawar, di tengah perairan atau di sisi perairan. Kedalaman pengoperasian pancing ulur tergantung pada ikan target dan panjang tali pancing (Admin 2010). Pengoperasian pancing ulur dapat dilakukan baik pada siang hari ataupun malam hari. Hasil tangkapan Pancing ulur dapat menangkap ikan-ikan baik berukuran kecil hingga berukuran besar, ikan hasil tangkapan yang umum antara lain ikan madidihang (Thunnus albacores), cakalang, tuna mata besar, ikan layaran, dan ikan pelagis lainnya (Rahmat 2007).

Hasil tangkapan
pancing ulur dengan menggunakan umpan didominasi oleh ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma). Jenis-jenis ikan tangkapan lainnya adalah ikan layang (Decapterus sp.), kurisi (Nemipterus nematophorus), kuniran (Upeneus sulphureus), cendro (Tylosurus erocodilus), kuwe (Caranx sexfaciatus), slongsong (Scomber sp.), barracuda (Sphyraena genie), tenggiri (Scomberomorus sp.), talang (Chorinemus tala), selar kuning (Selaroides leptolepis), daun bambu (Chorinemus tol), dan tembang (Sardinela fimbriata). Adapun hasil tangkapan pancing ulur tanpa umpan, menurut Kayadoe (1983), terdiri atas gorara (Lutjanus spp.), kwee macan (Gnathanodon speciosus), mata besar (Priacanthus tayenus), tenggiri (Scomberomorus commerson), lasi (chorinemus sanctipetri), biji nangka (Upeneus vittatus), alu-alu (Sphyraena picuda), peperek (Leiognathus spp.), selar kuning (Selaroides leptolepis), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), kacang-kacang (Hemirhamphus unifasciatus), dan kepala busuk (Saurida gracilis).

 Daftar Pustaka
Admin. 2010. Memancing: Cara memancing lapisan tengah. [terhubung berkala] http://www.pulauseribu.net/modules/news/article.php?storyid=1608 (8 Oktober 2011)
 [Dinas Kelautan dan Perikanan]. 2008. Perangkap Bubu. http://pipp.dkp.go.id/pipp2/alat_tangkap.html?idkat_api=8&idapi=2 7. (8 Oktober 2011)
 Rahmat E. 2007. Penggunaan pancing ulur untuk menangkap ikan pelagis besar. LIPI Jurnal. Balai Riset Perikanan Laut: Jakarta.
Wagiu M. 2009. Investasi terbatas bagi nelayan pancing ulur di Malalayang I Manado. Pacific Jurnal. Vol. 1(4) : 546-550.

 sumber : http://itaapriani.blogspot.com/2012/05/pancing-ulur.html